18 Agustus 2014

Foto dan Hasil Penelitian Sementara Lubang Misterius Yamal

 Ilmuwan Rusia mendapat pandangan pertama mereka di dalam kawah misterius di Yamal, Siberia pada Rabu 16 Juli, sedangkan Siberian Times, mengambil gambar dari helikopter untuk mendapatkan pemandangan kawah misterius tersebut dari atas.



Diperkirakan bahwa kawah bisa saja berdiameter 80 meter. Namun, Andrey Plekhanov dari State Scientific Centre of Arctic Research mengatakan kepada The Siberian Times bahwa lubang tersebut lebarnya sekitar 30 meter dan bagian terluar nya yang meliputi emisi tanah berdiameter sekitar 60 meter.

Para peneliti juga melihat danau es berada di bagian bawah lubang yang dalamnya sekitar 70 meter tersebut. Sampel tanah, udara, dan air telah diambil dalam rangka untuk membantu menentukan penyebabnya.

Hasil awal menunjukkan bahwa lubang itu terbentuk dalam dua tahun terakhir dan data satelit sedang diperiksa untuk mencoba dan mengidentifikasi dengan tepat kapan pertama kali lubang tersebut muncul. Plekhanov mengatakan kepada Siberian Times bahwa lubang itu adalah ejeksi dari dalam lapisan es, tapi itu bukan ledakan karena tidak ada pelepasan panas.


"Ada es di dalam kawah yang secara bertahap mencair di bawah matahari. Juga ada air lelehan mengalir turun dari sisi-sisinya, kita dapat melihat dengan jelas jejak-jejak air pada dinding lubang. Kawah ini diisi dengan es sekitar delapan puluh persen", kata Andrey Plekhanov

Dia menekankan: "Kami bekerja sama dengan space photographs (yang menyediakan gambar dari satelit) untuk mengetahui waktu yang tepat pembentukannya.


"Kami telah mengambil sampel tanah dan es yang akan langsung dibawa ke laboratorium. Kami bisa dengan yakin mengatakan bahwa kemunculan kawah ini relatif baru, mungkin satu atau dua tahun lalu.

"Mungkinkah terkait dengan pemanasan global? Kami harus melanjutkan penelitian kami untuk menjawab pertanyaan ini."

"Dua musim panas sebelumnya - tahun 2012 dan 2013 memang relatif panas untuk Yamal, mungkin ini entah bagaimana mempengaruhi pembentukan kawah."

"Tapi kami harus melakukan tes dan penelitian kami terlebih dahulu dan kemudian menyatakannya dengan lebih definitif ."

"Teori terbaik untuk saat ini adalah bahwa kawah itu terbentuk oleh kekuatan internal, bukan kekuatan eksternal."

"Untuk saat ini kami dapat mengatakan dengan pasti bahwa di bawah pengaruh proses internal ada ejeksi di permafrost. Saya ingin menekankan bahwa itu bukan sebuah ledakan, tapi ejeksi, sehingga tidak ada panas yang dilepaskan."

Sebelumnya para ilmuwan yakin ada bekas terbakar terlihat di sisi kawah.

"Saya juga teringat sebuah teori yang pernah dikemukakan oleh para ilmuwan kita pada tahun 1980-an, namun teori tersebut kemudian dilupakan selama beberapa tahun."

Teori itu mengatakan bahwa sejumlah danau di Yamal terbentuk karena proses alami persis seperti yang terjadi di permafrost.

"Seperti jenis proses yang terjadi sekitar 8.000 tahun yang lalu, mungkin alam mengulanginya saat ini. Jika teori ini dikonfirmasi, kita dapat mengatakan bahwa kita telah menyaksikan proses alam yang unik yang membentuk lanskap yang tidak biasa dari semenanjung Yamal."


"Tak ada jejak dampak antropogenik dekat kawah, juga tidak ada jejak keberadaan manusia, kecuali beberapa jejak kereta luncur dan tentu saja jejak rusa."

"Jika ini adalah bencana buatan manusia yang terjadi saat pememompaan gas, maka lubang ini tentu akan berada lebih dekat ke ladang gas, bukan disini", kata Andrey Plekhanov kepada The Siberian Times.

"Lubang ini sekitar 30 kilometer jauhnya. Dan tidak diketahui oleh para pekerja di ladang Gas".

Mengenai spekulasi alien atau UFO, dia bersikeras: "Tidak ada yang misterius tentang lubang ini. Tidak ada perasaan aneh atau yang tidak dapat dijelaskan disini, kami datang dan kembali dengan sehat wal afiat".

Meskipun demikian, ia mengatakan: "Saya belum pernah melihat sesuatu seperti ini, meskipun saya telah ke Yamal berkali-kali."



Musim panas tahun 2012 dan 2013 memang terasa hangat di wilayah tersebut, namun para peneliti masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum benar-benar tahu apa penyebab spesifik terciptanya lubang tersebut.

Sumber : apakabardunia.com

Telur Dinosaurus Berumur 120.000.000 Tahun Ditemukan di China

 Setidaknya, ahli paleontologi telah berhasil menemukan fosil 40 jantan dan betina spesies Pterosaurus disertai dengan lima telur dinosaurus utuh terawetkan dari periode Cretaceous Awal.

Temuan fosil Pterosaur beserta telur dinosaurus ditemukan dalam penggalian ilmuwan di barat laut Cina, mengungkapkan bahwa Pterosaurus hidup dan berkembang bersama kelompoknya.


Temuan fosil Pterosaur dan telur dinosaurus mewakili genus dan spesies baru yang disebut Hamipterus Tianshanensis, mirip dinosaurus Anzu Wyliei.

Studi ini ditulis Dr Wang Xiaolin dari Institute of Vertebrate Paleontology dan Paleoantropologi di Beijing, makalah diterbitkan dalam jurnal Current Biology.

Umumnya catatan fosil Pterosaurus sangat sedikit menjelaskan informasi populasi. Situs ini ditemukan pada tahun 2005, berada di Cekungan Turpan-Hami barat laut China.

Ahli paleontologi meyakini situs fosil Pterosaurus menyimpan ribuan tulang termasuk diantaranya tengkorak jantan dan betina serta telur dinosaurus utuh.

Sedimen yang ada di situs menunjukkan bahwa koloni Pterosaur punah disebabkan badai besar yang terjadi pada periode Cretaceous Awal, sekitar 120 juta tahun yang lalu.

Dr Wang dan timnya menyatakan bahwa fosil genus yang sebelumnya tidak diketahui termasuk spesies Pterosaurus, Hamipterus Tianshanensis.

Nama generik Hamipterus merupakan kombinasi dari referensi daerah penemuan spesimen, kata Pteros dalam bahasa Yunani diartikan sebagai 'sayap', nama spesifik Tianshanensis mengacu pada pegunaungan Tian Shan di Xinjiang, Cina.

Pterosaur termasuk reptil terbang dengan rentang sayap berkisar 25 cm hingga 12 meter dan hidup berkelompok.


Para ahli paleontologi telah memeriksa telur Pterosaurus terawetkan cukup baik dan lentur, tipis, cangkang berkapur di bagian luar dan lembut, membran tebal di bagian dalamnya, sangat mirip dengan telur ular modern.

Analisis 40 Pterosaurus menunjukkan perbedaan antara jantan dan betina berupa ukuran, bentuk, dan bagian puncak kepala. Kombinasi temuan fosil Pterosaurus dan telur dinosaurus menunjukkan sarang di sekitarnya, dan perilaku spesies Pterosaurus lebih suka berkelompok.

Hamipterus Tianshanensis kemungkinan besar mengubur telurnya di pasir sepanjang pantai danau kuno untuk mencegahnya dari kekeringan. Fosil Pterosaurus baru juga menjelaskan sistem reproduksi, pengembangan, dan perilaku Pterosaurus, dan masih banyak temuan yang belum terungkap.

Sumber :

Amigdalin, Zat Pada Biji Apel yang Berbahaya

  Sebagian ahli gizi menyarankan agar apel dimakan bersama dengan kulitnya. Hal ini karena kulit apel mengandung serat yang bermanfaat bagi tubuh. Kendati begitu ada bagian dari buah apel yang sebaiknya tidak anda makan, yakni bijinya.

Biji apel memiliki kandungan zat amigdalin. Zat ini dapat dikonversi menjadi hidrogen sianida yang beracun. Akan tetapi, kalau hanya dikonsumsi dalam jumlah kecil maka efek toksin dari biji apel tersebut juga sangat kecil.

http://www.soylution.co.id/webroot/images/contents/img/Apel,_Buah_Populer_dengan_Kaya_Manfaat_Sehat.jpg



Hindari Mengunyah Biji Apel

Selain apel, ada beberapa buah lainnya yang juga mengandung amigdalin, diantaranya adalah plum, persik, quince, dan almond.

Kadar amigdalin yang ada di dalam buah apel termasuk kecil, terlebih lagi zat tersebut baru keluar jika bijinya dikunyah dengan baik.

Amigdalin merupakan toksin glikosida yang apabila dikombinasikan dengan enzim pencernaan akan menghasilkan hidrogen sianida, racun yang setara dengan Cylon B. Racun tersebut juga digunakan pada pembunuhan massal di kamp konsentrasi ketika perang dunia II berlangsung.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_j2-Y_J7HAQp8FRZ_4dsQiujPxb5HBxurVqLCo0Y1ItTPFJvuPggETUy70VortnYA2T-hRVO70f32yl8XULjP2PfhONYVPI3ORKEv8Yfv1S0gfCjUuJe5p74WzKyVj4Yohe39WRgbx7bd/s400/apel.jpg

Walaupun demikian, buah atau biji buah yang memiliki kandungan amigdalin dapat diproses untuk menyingkirkan zat beracunnya, misalnya adalah singkong.

Singkong mengandung cyanogen yang sangat tinggi, namun zat tersebut dapat diolah menjadi tepung tapioka. Proses pemasakan singkong dapat membuat cyanogen menjadi tidak berbahaya. Begitu juga dengan kacang almond, yang juga dapat dihilangkan dengan proses yang hampir sama.

Amigdalin yang telah diubah menjadi hidrogen sianida dapat menjadi berbahaya karena zat tersebut akan mengurangi kinerja sel darah merah dalam membawa oksigen. Walaupun dalam jumlah kecil tubuh dapat membuang hidrogen sianida, namun apabila jumlahnya besar, maka bisa berakibat fatal.

Orang yang keracunan hidrogen sianida berisiko mengalami sakit kepala, jantung berdebar dengan cepat, muntah, mual, lemas, dan gemetar. Hal ini bahkan bisa menjadi serius apabila hidrogen sianida datang dalam jumlah yang besar, bisa menyebabkan koma, sesak napas, kerusakan paru, tekanan darah rendah, dan bahkan kematian.

Kembali lagi ke masalah apel, anda tidak perlu risau tentang zat amigdalin yang terkandung di dalam bijinya. Apabila anda tidak sengaja memakan biji apel, maka hal tersebut tidak akan membuat anda keracunan.

Namun, sebaiknya anda sebisa mungkin menghindari mengunyah biji apel. Agar lebih aman, potonglah buah apel menjadi beberapa bagian, kemudian buang bijinya, dan setelah itu makan buahnya.

Hal ini juga berlaku apabila anda ingin memblender apel untuk dibuat jus atau selai, jangan lupa untuk membuang bijinya terlebih dulu.

Sumber :